Tampilkan postingan dengan label kebiasaan makan ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebiasaan makan ikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

kebiasaan makan ikan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pada umumnya  kebiasaan makan dan cara makan ikan menentukan tempat makan atau lokasi makan, waktu makan ikan, cara makan ikan, dan jenis makanan kegemaran ikan. Spesies ikan antara yang satu dengan spesies ikan lainnya memiliki kebiasaan makan dan cara makan yang berbeda. Oleh karena itu kebiasaan makan dan cara makan menentukan golongan ikan, misalnya saja ikan yang sering mencari makan di dasar perairan, baik itu perairan tawar, ataupun  laut  dimasukkan pada golongan ikan demersal, dan ikan tersebut berbeda dengan ikan yang mencari makan di perairan bagian permukaan.  Kebiasaan dan cara makan adalah faktor penting yang menentukan keberhasilan empertahankan eksistensi suatu organisme karena makanan menyediakan semua nutrisi yang diperlukan untuk organisme untuk tumbuh dan berkembang. Makanan jga berperan dalam menetukan distribusi dan migrasi ikan tertentu.

Perbedaan kualitas air dapat menyebabkan perbedaan variasi lingkungan, karena pengaruh pencemaran air lebih besar pada ikan dibandingkan dengam hewan darat. Suhu dan kualitas air mempengaruhi karakter seperti pertumbuhan dan daya tahan terhadap penyakit dan juga perkembangan karakter, karena suhu dan perubahan kualitas air dapat memacu terbentuknya larva yang cacat. Proses biologi dan fisiologi juga bertanggung  jawab terhadap pengaruh lingkungan. Sebagai contoh, pada ikan yang sedang tumbuh, perbandingan permukaan insang dengan volume badan nilainya menjadi lebih kecil. Biasanya ikan besar mempunyai toleransi yang rendah terhadap oksigen dibandingkan ikan kecil.

1.2 Tujuan Praktikum
            Praktikum ini bertujuan untuk mengamati bentuk alat pencernaan pada ikan dan tipe makanan, sehingga dapat ditentukan ikan termasuk tergolong kedalam tipe mana, Herbivora, Karnivora atau Omnivora.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Komposisi makanan yang terdapat pada lambung ikan tongkol dianalisis sebagian dapat diidentifikasi sampai tingkat genus seperti euthynnus, sementara sebagian lain hanya sampai tingkat famili misalnya scombridae, dan bahkan ada taksa di atas famili antara lain Polychaeta. Hal ini terjadi karena proses pencernaan sudah berjalan sehingga yang ditemukan adalah organisme yang tidak utuh lagi. Dengan melihat jenis makanannya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ikan tongkol termasuk ke dalam kelompok karnivor (Sjafei dan Robiyani, 2007).
 Gigi kecil dan berbentuk kerucut dalam rangkaian tunggal. Sirip dada pendek tapi mencapai garis vertikal melewati batas anterior dari daerah scaleless atas corselet. Sebuah flap tunggal besar (proses interpelvic) antara sirip perut tubuh telanjang kecuali untuk corselet yang dikembangkan dengan baik dan sempit di bagian posterior (tidak lebih dari 5 skala yang luas di bawah asal-sirip punggung kedua). Sebuah keel pusat yang kuat pada setiap sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel (Cholik 2000).
            Ikan tongkol (Ethynnus pelamis) adalah jenis ikan scombridae (ikan pelafis), secara taksonomi ikan tongkol diklasifikasikan ke dalam filum : Chordata, Sub filum : Vertebrata, Klas : Pisces, Sub Klas : Feleostei, Ordo : Percomorphi, Famili : Scobridae, Genus : Euthynnus, spesies : Euthynnus pelamis (Saanin, 1984).
            Ikan tongkol termasuk dalam golongan ikan pelagis, perenang cepat, mempunyai kadar lemak yang rendah, serta mempunyai komposisi daging yang terdiri daging merah dan putih. Ikan tongkol masih dalam keluarga Scombridae, bentuk tubuh seperti cerucut, dengan kulit licin dan sirip dada melengkung. Ikan tongkol mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh seperti cerutu, dengan kulitnya yang licin. Sirip dada melengkung, ujungnya tirus dan pangkalnya ( Rahayu, 1992).
            Maksud mempelajari kebiasaan makanan ikan ialah menentukan gizi alamiah suatu ikan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan maka dapat dilihat antara hubungan ekologi diantara organisme perairan tersebut. Misalnya bentuk-bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang sangat menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan. Sedangkan macam makanan suatu spesies ikan biasanya bergantung kepada umur ikan, tempat hidup ikan dan waktu (Fujaya, 2004).
 


BAB III
METODELOGI KERJA

3.1 Alat dan Bahan

            Adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum berlangsung adalah, nampan / baki, ikan sampel (ikan Tongkol), timbangan, gunting, pisau (alat bedah ikan), polpen, buku, sarung tangan, sabun cuci tangan, tissue, dan lain sebagainya.

3.2 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan pada pukul 14.00-15.45, pada tanggal 17 April 2014, yang berlangsung di laboratorium Budidaya Perikanan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.

3.3 Cara Kerja
            3.3.1 Analisis Isi Lambung

·         Ikan sample dikelompokkan alam beberapa kelas panjang, cukup 3 ekor ikan sampel untuk setiap kelas.
·         Diukur dan ditimbang ikan sampel dengan alat ukur akurasi tinggi.
·         Dibelah perut ikan sesuai prosedur yang telah dipelajari sebelumnya.
·         Dikeluarkan alat pencernaan ikan secara hati-hati, diukur dan ditimbang. Jika dapat dibedakan antara bagian lambung dan usus ukur masing-masing bagianya.
·         Dibedah alat pencernaan tersebut secara hati-hati dan jika berisi keluarkan isinya.
·         Dipisah-pisahkan makann tersebut berdasarkan jenisnya, dihitung jumlahnya dan ditimbang masing-masing jenis tersebut.
·         Jenis makanan diusahakan sedapat mungkin untuk ditentukan jenis/nama makanan tersebut sampai tingkat taksonomi paling rendah (spesies).

a.      Metode Jumlah
·         Dikeluarkan isi lambung dan dikering anginkan.
·         Dipisah-pisahkan makanan berdasarkan jenisnya.
·         Dihitung masing-masing jenis.
·         Dihitung persentase masing-masing jenis dengan rumus.


b.      Metode Frekuensi
·         Dikelompokkan alat pencernaan menjadi dua : yang berisi dan yang kosong.
·         Dicatat setiap isi lambung ikan sampel.
·         Dihitung persentase kajian setiap jenis makanan (hanya isi lambung) dihitung dengan rumus.


c.       Metode Volume Metrik
·         Ditimbang dan diukur lambung ikan.
·         Dikeluarkan isinya dan dikeringanginkan.
·         Diukur volume isi  lambung ikan berkenaan.
·         Dipisah-pisahkan isi lambung / makanan menurut jenisnya.
·         Diukur volume setiap jenis makanan tersebut.
·         Diukur persentase setiap makanan tersebut dengan menggunakan rumus.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan

1.      Pengamatan organ pencernaan pada ikan tongkol
No
Analisa organ ikan
Ikan I
Ikan II
Ikan III
1
Bukaan mulut
Besar
Besar
Besar
2
Ukuran lebar bukaan mulut
5 cm
5 cm
5 cm
3
Gigi
Bergerigi
Bergerigi
Bergerigi
4
Insang
Kasar, jarang
Kasar, jarang
Kasar, jarang
5
Ukuran panjang bibir
3 cm
3 cm
3 cm
6
Berat usus
23,45 gr
20,70 gr
17,85 gr

2.      Analisis kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode jumlah
Jenis makanan
Jumlah dalam satu lambung
% proporsi
Udang
18
32,73
Ikan kecil
14
25,45
Cacing
13
23,63
Serangga air
10
18,18
Σ
55
99,99

Grafik 1. Metode jumlah
 

1.      Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode frekuensi
Jenis makanan
Jumlah frekuensi pada 3 ekor ikan
% frekunsi kejadian
Udang
1
33,33
Ikan kecil
2
66,66
Cacing
13
433,3
Serangga air
2
66,6
Σ
18
599,89

Grafik 2. Metode frekuensi
   
1.      Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode volume metrik
Jenis makanan
Volume masing-masing jenis makanan (ml)
% proporsi makanan
Udang
5
33,3
Ikan kecil
6
40
Cacing
1
2,66
Serangga
3
20
Σ
15
95,96
 
Grafik 3. Metode volume metrik
 

1.      IndeksRelatifPenting (IRP)
Organisme
N

V

F

IRP
makanan
jumlah
%
jumlah
%
kejadian
%

Udang
18
23,73
5
33,3
1
33,33
2199,78
Ikan kecil
14
25,45
6
40
2
66,66
2689,45
Cacing
13
23,63
1
2,66
13
433,3
138,808
Serangga
10
18,18
3
20
2
66,6
2542,788

2.      Indeks preponderance (IP)
Jenismakanan
Vi (%)
Oi (%)
Vi x Oi
IP
Udang
33,3
33,33
1109,88
17,727
Ikan kecil
40
66,66
2666,4
42,588
Cacing
2,66
433,3
1152,58
18,409
Serangga
20
66,6
1332
21,275
95,96
599,89
6260,86
99,999

4.1  Pembahasan
            Praktikum ini berlangsung dengan lancar, sampel yang digunakan adalah ikan tongkol sebanyak 3 ekor, dan diidentifikasi di laboratorium, langkah yang pertama adalah mengukur berat ikan sampel hasilnya berbeda tipis anatar ikan yang satu degan ikan sampel yang lainya, ukuran beratnya antara 750 g – 900 g, hal ini desebabkan oleh banyak faktor diantaranya yaitu sumber makanan, dan cara makan pada ikan tersebut. Kemudian mengidentifikasi selanjutnya dengan membelah dan mengeluarkan isi perut dari ikan tongkol, setelah itu memisahkan usus, dari hasilnya usus ikan tongkol memiliki ukuran yang cukup pendek, bisa digolongkan ikan tongkol adalah tipe ikan karnivora, yaitu sebagai ikan predator/pemangsa.
          Tabel 1. Pengamatan organ pencernaan pada ikan tongkol
No
Analisa organ ikan
Ikan I
Ikan II
Ikan III
1
Bukaan mulut
Besar
Besar
Besar
2
Ukuran lebar bukaan mulut
5 cm
5 cm
5 cm
3
Gigi
Bergerigi
Bergerigi
Bergerigi
4
Insang
Kasar, jarang
Kasar, jarang
Kasar, jarang
5
Ukuran panjang bibir
3 cm
3 cm
3 cm
6
Berat usus
23,45 gr
20,70 gr
17,85 gr

            Dari hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa setelah diidentifikasi bahwa ikan sampel yang digunakan memiliki ukuran mulut yang besar (5 cm), selain itu sampel ikan ini juga memiliki bibir yang panjang mencapai 3 cm,  hal ini berkaitan dengan ukuran dengan makanan yang dimasukkan ke dalam mulut, karena sampel ini sebagai hewan predator sehingga menyebabkan mulut ikan ini cukup lebar. Dan memiliki gigi yang berbentuk gerigi yang berfungsi untuk mengunnyah/menghancurkan makanan yang dimakan, agar lebih mudah untuk dicerna di dalam lambung dan usus.
            Dan ikan ini  memiliki usus yang cukup besar denga ukuran berat mulai dari 17,85 gr – 23,45 sm.hal ini disebabkan karen ukuran ikan sampelnya besar makan ukuran yang ada di dalam perut ikan tersebut juga besar temasuk berat usus. Sedangkan unutk bentuk insang rapat anatar filamen-filamenya, dan jika insang tersebut di raba dengan tangan akan terasa kasar, hal ini i pengaruhi oleh tempat hidup ikan (habitat).
 

Tabel 2.  Analisis kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode jumlah
Jenis makanan
Jumlah dalam satu lambung
% proporsi
Udang
18
32,73
Ikan kecil
14
25,45
Cacing
13
23,63
Serangga air
10
18,18
Σ
55
99,99

            Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa jenis makanan yang terdapat di dalam lambung ikan sampel, ada 4 jenis makanan seperti yang di dalam tabel, dan memiliki jumlah yang bervariasi, dari jumlah maknanan/jenis makanannya, dapat dihitung dangan menggunakan metode jumlah dengan rumus %suatu jeis makanan ke-i = jumlah makanan ke-i/total julah seluruh makanan yang ada dalam lambung×100%, sehingga didapat hasil %proporsinya.
            Tabel 3. Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode frekuensi
Jenis makanan
Jumlah frekuensi pada 3 ekor ikan
% frekunsi kejadian
Udang
1
33,33
Ikan kecil
2
66,66
Cacing
13
433,3
Serangga air
2
66,6
Σ
18
599,89

            Kemudian dilanjutkan dengan penghitungan data dengan menggunakan metode Frekuensi kejadian. Untuk ikan yang dibedah lambungnya sebanyak 3 ekor ikan. Misalnya untuk semua ekor berisi makanan, dan lambung yang berisi tersebut, di dalam lambungnya terdapat 4 jenis makanan, untuk Udang 18 ekor, Ikan kecil 14 ekor, Cacing  13 ekor, dan Serangga air 10 ekor, maka harus dihitung persentase kejadian setiap jenis makanan dengan menggunakan rumus, FKM = Jumlah kejadian suatu jenis makanan / jumlah lambung yang berisi makanan × 100%, dengan begitu dapatlah hasil seperti tabel yang di atas.
            Tabel 4. Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode volume metrik
Jenis makanan
Volume masing-masing jenis makanan (ml)
% proporsi makanan
Udang
5
33,3
Ikan kecil
6
40
Cacing
1
2,66
Serangga
3
20
Σ
15
95,96

Untuk tabel di atas mencari hasilnya dengan menggunakan metode Volume metrik, volume metrik itu sendiri adalah berat dari jenis individu dari makanan tersebut, setelah diukur maka dihitung %proporsi makanan tersebut dengan menggunakan rumus, Persentase suatu jeis makanan = volume suati jenis makanan/volume total isi lambung×100%. Maka dapatlah hasil seperti yang tertera di dalam tabel di atas.
Tabel 5. Indeks Relatif Penting (IRP)
Organisme
N

V

F

IRP
makanan
jumlah
%
jumlah
%
kejadian
%

Udang
18
23,73
5
33,3
1
33,33
2199,78
Ikan kecil
14
25,45
6
40
2
66,66
2689,45
Cacing
13
23,63
1
2,66
13
433,3
138,808
Serangga
10
18,18
3
20
2
66,6
2542,788

Hasil dari tabel diatas adalah merupakan hasil dari IRP ( indeks Re;atif Penting ), indeks ini dihitung untuk mengetahui makanan apa yang penting untuk ikan yang dituju. Nilai ini adalah hasil dari gabungan nilai dari ke-3 metode yng telah di hitung sebelumnya yaitu metode jumlah, metode volume metrik  dan metode frekuensi kejadian, dengan menggunakan rumus : IRP = (N + V) × F denagan keterangan bahwa IRP = Indeks Relatif Penting, V = persentase volume suatu makanan, F = frekuensi kejadian satu jenis makanan.
Namun indeks ini memiliki kelemahan yaitu : semua jenis makanan harus dapat dihitung, pekerjaan ni sedikit sulit diterapkan pada ikan yang bersifat herbivora atau omnivora karena umbuhan yang satu dengan yang lain yang sudah bercampur dalam lambung ikan yang sulit diketahui, hal ini membuat memakan yang lama.
Tabel 6. Indeks proponderance (IP)
Jenismakanan
Vi (%)
Oi (%)
Vi x Oi
IP
Udang
33,3
33,33
1109,88
17,727
Ikan kecil
40
66,66
2666,4
42,588
Cacing
2,66
433,3
1152,58
18,409
Serangga
20
66,6
1332
21,275
95,96
599,89
6260,86
99,999

Indeks, ini sering disebut juga dengan indeks bagian tersebar, indeks ini dianggap juga sebagai jawaban dari kelemahan indeks IRP, metode ini juga merupakan gabungan dari 2 metode, yaitu frekuensi kejadian dan vulume metrik, dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Natarajan & Jhingran. Dengan menggunakan rumus :
 IP = Vi × Oi × 100
                     ∑ Vi × Oi
Dengan Vi = persentase volume satu jenis makanan, Oi =  persentase frekensi kejadian satu jenis makanan, ∑ Vi × Oi adalah merupakan jumlah Vi × Oi ari semua jeis makanan, dan IP = Indeks Proponderence, dan hasilnya seperti di dalam tabel di atas.



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari hasil praktikum kebiasaan makan dari ikan tongkol adalah :
Ø  Ikan Tongkol merupakan ikan tipe ikan Karnivora (ikan pemangsa/predator).
Ø  Ikan Tongkol memiliki bukaan mulut yang lebar.
Ø  Ikan tongkol memiliki gigi yang bergerigi.
Ø  Ikan Tongkol  merupakan ikan durnal, ikan yang mencari makan disiang hari.



5.2 Saran
            Semoga kedepan nya paraktikum lebih baik dan lebih sempurna, dan lpraktikan lebih kompak lagi dengan para asisten.


DAFTAR  PUSTAKA

Cholik, 2000. FAO Fish. Tech. Pap. 101/1, ICLARM, Roma.: 255 pp.
Fujaya, 2004.  Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas
            Perikanan. Institut  Pertanian Bogor, Bogor.
Rahayu, 1992. Analisis hasil tangkapan sumberdaya ikan ekor kuning (Caesio cuning) .
            University Maritime Raja Ali Haji.
Saanin, 1984. Prinsip dan prosedur statistika. Suatu pendekatan biometrik. Edisi
            kedua. Gramedia Pustaka Utama: 748 hal.
Sjafei dan Robiyani, 2007 . Introduction to tropical fish stock assessment. Part 1 – Manual.
            FAO Fish. Tech. Pap.(306/1) :337 pp.





 

LAMPIRAN


Tabel 1.Analisis kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode jumlah
Jenis makanan
Jumlah dalam satu lambung
% proporsi
Udang
18
32,73
Ikan kecil
14
25,45
Cacing
13
23,63
Serangga air
10
18,18
Σ
55
99,99

Tabel 2. Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode frekuensi
Jenis makanan
Jumlah frekuensi pada 3 ekor ikan
% frekunsi kejadian
Udang
1
33,33
Ikan kecil
2
66,66
Cacing
13
433,3
Serangga air
2
66,6
Σ
18
599,89


Tabel 3. Analisa kebiasaan makan ikan tongkol dengan metode volume metrik
Jenis makanan
Volume masing-masing jenis makanan (ml)
% proporsi makanan
Udang
5
33,3
Ikan kecil
6
40
Cacing
1
2,66
Serangga
3
20
Σ
15
95,96